Minggu, 11 Juli 2021

Laporan bacaan ke 10 setelah UTS

 Nama Hendri

Nim 11901018

Judul: PENGEMBANGAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK PADA POKOK BAHASAN LINGKARAN KELAS VIII SMP


Perangkat Pembelajaran


Berdasarkan jurnal yang saya baca, bahwasanya Perangkat Pembelajaran merupakan sekumpulan sumber belajar yang memungkinkan siswa dan guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran (Hobri, 2010:31). Perangkat yang dimaksudkan yaitu meliputi RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, LKS (Lembar Kerja Siswa), BS (Buku Siswa), dan tes hasil belajar. Oleh sebab itu, sangat dibutuhkannya Pengembangan Perangkat Pembelajaran agar siswa dan guru dapat terpenuhi kebutuhannya dalam kegiatan belajar mengajar Matematika di Sekolah serta dapat mencapai tujuan penyelenggaraan kelas.


Dalam Penelitian ini, Perangkat Pembelajaran yang akan dikembangkan meliputi RPP, Buku Siswa, Lembar Kerja Siswa (LKS), dan THB pokok bahasan Lingkaran. Penelitian Pengembangan ini menggunakan model Thiagarajan, Semmel dan Semmel. Model Pengembangan Perangkat pada penelitian ini menggunakan model Thiagarajan yang terdiri dari 4 tahap yang dikenal dengan model 4-D (Four D Model). Keempat dari tahap tersebut yaitu: Tahap Pendefinisian (Define), perancangan (design), pengembangan(develope), dan penyebaran (disseminate).


Berikut adalah Perangkat yang dihasilkan dalam penelitian ini,


1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)


RPP yang dikembangkan adalah RPP yang indikator pembelajaran dibedakan menjadi dua ranah yaitu ranah kognitif, dan afektif. Indikator untuk ranah kognitif dibagi menjadi dua yaitu kognitif produk dan proses.Komponen RPP yang dikembangkan terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup yang memuat karakteristik dan langkah-langkah pembelajaran matematika realistik.


2. Buku Siswa


Buku siswa disusun berdasarkan materi yang telah ditentukan dan dijabarkan sesuai dengan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator dan tujuan pembelajaran yang disesuaikan dengan pembelajaran matematika realistik.Selain itu, Buku siswa yang dibuat disusun dan disesuaikan berdasarkan LKS yang akan dikembangkan.


3. Lembar Kerja Siswa (LKS)


Dasar pembuatan Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah mengacu pada indikator pembelajaran yang akan dicapai serta karakteristik pembelajaran matematika realistik. LKS ini juga dibuat berdasarkan pada karakteristik siswa sehingga dapat mempermudah siswa dalam memahami materi lingkaran. LKS yang dikembangkan menuntut siswa untuk mengkontruksi sendiri pengetahuannya dan menemukan materi pembelajaran yang akan dipelajari.


4. Tes Hasil Belajar (THB)


Tes hasil belajar dibuat berdasarkan materi yang telah diajarkan menggunakan pembelajaran matematika dengan menggunakan pembelajaran matematika realistik yang akan digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa pada materi Lingkaran.

Laporan bacaan ke 9 setelah UTS

 Nama HENDRI

Nim 11901018

Identitas Jurnal


Judul: Penting nya memahami karakteristik siswa


Penulis: Nevi Septiani


Penerbit: As-Sabiqun : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini


Volume : Volume 2, Nomor 1, Maret 2020; 7-17


Sumber : https://cdn-gbelajar.simpkb.id




Pendidikan merupakan sarana strategis untuk meningkatkan kualitas bangsa karenanya kemajuan bangsa dan kemajuan pendidikan merupakan suatu determinasi. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, pembelajaran menjadi ujung tombak bagi terciptanya pendidikan yang berkualitas. Hanya dengan pembelajaran yang berkualitaslah suatu instansi dapat menghasilkan lulusan yang berkualitas. Dalam tataran operasional, tenaga pendidik memiliki tugas dan tanggung jawab bagi terselenggaranya pembelajaran yang berkualitas. Untuk itu sangat penting bagi tenaga pendidik memiliki kompetensi dan standar kualifikasi pendidikan agar pembelajaran mencapai efektivitas dan efisiensinya.


Perkembangan zaman telah membuat perkembangan dalam pendidikan terkait ilmu pengetahuan dan teknologi serta menciptakan persaingan global secara ketat. Agar mampu berperan dalam persaingan global, maka sebagai bangsa kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan kenyataan yang harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif dan efisien dalam proses pembangunan, kalau tidak ingin bangsa ini kalah bersaing dalam menjalani era globalisasi tersebut. Pendidikan di era global diharapkan mampu mengatasi permasalahan pendidikan terkait moral dan sosial masyarakat Indonesia, khususnya peserta didik. Pendidikan ini melahirkan konsep baru yaitu pendidikan abad 21 dimana pembelajaran ini memiliki perbedaan dengan pembelajaran di masa yang lalu.Untuk mengembangkan pembelajaran abad 21, guru harus memulai satu langkah perubahan yaitu merubah pola pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student center).


Banyak faktor penyebab kualitas pendidikan rendah, di antaranya kegiatan pembelajaran yang kurang tanggap terhadap kemajemukan individu dan lingkungan tempat siswa berada. Pembelajaran demikian kurang bermanfaat bagi siswa. Agar pembelajaran bermakna, perlu dirancang dan dikembangkan berdasarkan pada kondisi siswa sebagai subjek belajar dan komunitas budaya tempat siswa tinggal.Siswa adalah manusia yang memiliki sejarah, makhluk dengan ciri keunikannya (individuallitas). Pemahaman akan subjek belajar harus dimiliki oleh guru atau tenaga kependidikan lainnya untuk dijadikan pijakan dalam mengembangkan teori ataupun praksis-praksis pendidikan dan pembelajaran.


Karakteristik peserta didik sangat penting untuk diketahui oleh pendidik,karena ini sangat penting untuk dijadikan acuan dalam merumuskan strategi pengajaran. Strategi pengajaran terdiri atas metode dan teknik atau prosedur yang menjamin siswa mencapai tujuan. Strategi dan metode pembelajaran berguna untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.


Menurut Kemp dalam Wina Senjaya (2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J.R.David l, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran.


Reigeluth (1983) sebagai seorang ilmuan pembelajaran, bahkan secara tegas menempatkan karakteristik siswa sebagai satu variabel yang paling berpengaruh dalam pengembangan strategi pengelolaan pembelajaran.


(Menurut penelitian Kemp dalam Wina Senjaya (2008), strategi pembelajaran merupakan kegiatan pembelajaran yang harus diselesaikan oleh guru dan siswa agar dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien. Selain itu, mengutip pemikiran J.R. David I, Wina Senjaya (2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran mencakup perencanaan. Artinya strategi pada dasarnya masih merupakan konsep tentang keputusan yang akan diambil dalam pelaksanaan pembelajaran. Sebagai ilmuwan pembelajaran, Reigeluth (1983) bahkan secara eksplisit menganggap karakteristik kepribadian siswa sebagai salah satu variabel yang paling berpengaruh dalam pengembangan strategi manajemen pembelajaran).


Akar pembelajaran seperti Banathy, Romiszowski, Dick dan Carey, Gagne dan Degeng, menempatkan langkah analisis karakteristik siswa pada posisi yang sangat penting sebelum langkah pemilihan dan pengembangan strategi pembelajaran. Semua ini menunjukkan bahwa model pembelajaran apapun yang dikembangkan atau strategi apapun yang dipilih untuk keperluan pembelajaran haruslah berpijak pada karakteristik perseorangan atau kelompok dari siapa yang belajar. Untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang optimal, terlebih dahulu guru perlu mengetahui karakteristik siswa sebagai pijakannya. Analisis karakteristik siswa dilakukan setelah perancang pembelajaran mengidentifikasi tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Juga ditunjukkan bahwa hasil analisis karakteristik siswa selanjutnya dijadikan pijakan kerja dalam memilih,menetapkan, dan mengembangkan strategi pengelolaan pembelajaran. Dengan konteks seperti ini, menjadi semakin jelas perlunya dilakukan penelitian karakteristik siswa yang berkaitan dengan kefektifan pembelajaran agar dapat dipakai sebagai dasar bagi para ilmuwan dan teknolog pembelajaran serta para guru dalam mendesain program-program pembelajaran.


Dewanti (2009: 25) membuktikan bahwa strategi pembelajaran yang digunakan guru jika disesuaikan dengan kebutuhan siswa akan meningkatkan efektivitas belajar siswa. Ia menyarankan, strategi pembelajaran di kelas seharusnya mempertimbangkan keadaan siswa dan manfaatnya bagi kehidupan mereka sehari-hari.


Penelitian Siskandar (2009:183) menambah bukti bahwa faktor internal atau faktor yang datang dari dalam diri siswa sangat berpengaruh terhadap hasil belajarnya. Untuk itu, ia menyarankan aga pembelajaran berpusat pada gaya belajar siswa atau pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuannya. Dengan demikian, bahan ajar modul sebaiknya dibuat sendiri oleh guru agar lebih menarik serta lebih konstektual dengan situasi dan kondisi sekolah maupun lingkungan sosial budaya peserta didik. Namun, saat ini masih jarang guru yang membuat bahan ajar sendiri, sebagian besar guru masih menggunakan bahan ajar yang beredar di pasaran (Ali Mustadi, 2015). Jika dalam menyampaikan materi pelajaran guru kurang memperhatikan karakteristik siswa dan ciri-ciri kepribadian siswa tidak dijadikan pijakan dalam pembelajaran, siswa akan mengalamai kesulitan memahami materi pelajaran. Mereka merasa bosan, bahkan timbul kebencian terhadap materi pelajaran yang diajarkan oleh guru. Kondisi demikian sebagai penyebab rendahnya kualitas dan kuantitas proses serta hasil belajar yang telah diprogramkan. Upaya apa pun yang dipilih dan dilakukan oleh guru dan perancang pembelajaran jika tidak bertumpu pada karakteristik perseorangan siswa sebagai subjek belajar, maka pembelajaran yang dikembangkan tidak akan bermakna bagi siswa.


Karakteristik siswa yang dapat diidentifikasi sebagai faktor yang amat berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kecerdasan, kemampuan awal, gaya kognitif, gaya belajar, motivasi, dan faktor sosial-budaya. Informasi tentang tingkat perkembangan kecerdasan siswa amat diperlukan sebagai pijakan dalam memilih komponen-komponen dalam pembelajaran, seperti tujuan pembelajaran, materi, media, strategi pembelajaran, dan evaluasi (Gardner, 1993; Amstrong, 1994). Menurut Suparno (2001), siswa yang berada pada tahap pemikiran operasional konkret sudah memiliki kecakapan berpikir logis, tetapi hanya melalui benda-benda konkret sehingga semua komponen pembelajaran perlu disesuaikan dengan kemampuan tersebut. Sebaliknya, mereka yang sudah berada pada tahap operasi formal sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”. Mereka sudah dapat berpikir ilmiah, baik deduktif maupun induktif, serta mampu menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesis. Oleh sebab itu, komponen-komponen pembelajaran sudah dapat dirancang sedemikian rupa untuk diarahkan pada kemampuan tersebut. Dengan karakteristik siswa yang telah diuraikan seperti di atas, guru dituntut untuk dapat mengemas perencanaan dan pengalaman belajar yang akan diberikan kepada siswa dengan baik, menyampaikan hal-hal yang ada di lingkungan sekitar kehidupan siswa sehari-hari, sehingga materi pelajaran yang dipelajari tidak abstrak dan lebih bermakna bagi anak.


Penting bagi Guru Pintar untuk dapat mengenali dan memahami karakteristik peserta didik. Salah satu manfaat ketika Guru mengenali dan memahami karakter siswa adalah proses belajar mengajar yang berlangsung dengan lebih baik.


1. Kenali Temperamen Siswa


Pada dasarnya, bagaimana siswa memahami materi pelajaran dan mengerjakan tugas-tugasnya terkait erat dengan temperamen siswa itu sendiri. Bahkan eksplorasi cara-cara baru dalam menuntaskan tugasnya juga sangat dipengaruhi oleh karakteristik siswa. Ada sebagian siswa yang tampak antusias dan mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Ada pula karakter siswa yang cenderung berhati-hati saat beradaptasi degan lingkungan baru, namun semakin santai seiring waktu. Dan, ada karakter siswa yang lambat beradaptasi serta rentan menampilkan ledakan emosi.


2. Amati Siswa selama Proses Belajar


Sebagai individu, karakter siswa tampak dari caranya berkomunikasi – baik verbal maupun non-verbal. Bagaimana siswa berinteraksi dengan teman-temannya juga bisa memberi petunjuk tentang karakteristiknya. Lebih dari itu, pola interaksi yang sama boleh jadi terulang pada saat siswa harus bekerja dan mengerjakan tugasnya dalam kelompok. Raut muka juga mampu menunjukkan apakah siswa sudah memahami materi pelajaran atau belum. Karakteristik siswa juga dapat diamati dari perilakunya – apakah relatif tenang, mengganggu kelas, dan seterusnya. Pada akhirnya, proses belajar seorang siswa yang kurang lancar dapat menghambat proses belajar mengajar kelas – dengan mengganggu temannya, misalnya.


3. Komunikasi Dua Arah


Komunikasi dua arah menjadi penanda penting karakteristik guru dan siswa abad 21. Komunikasi dua arah berperan penting sebagai sarana Guru untuk mengetahui sudut pandang dan perasaan siswa. Bahkan, siswa dapat menyampaikan apa yang ingin diketahui dan dipelajarinya melalui komunikasi yang baik dengan Gurunya. Tugas atau project juga dapat didiskusikan bersama siswa. Melibatkan siswa dalam menentukan tugas yang akan dibuat, termasuk ketua kelompoknya, merupakan bentuk komunikasi dua arah yang berjalan baik. Cara mengelola kelas dengan karakteristik siswa yang berbeda adalah dengan memahami setiap karakteristik yang ada. Akan tetapi, komunikasi dua arah yang baik mampu menentukan pemahaman karakteristik siswa tersebut akan dibawa ke mana.


4. Menyertakan Siswa pada Program Pengenalan Diri


Jika karakteristik siswa dapat dipahami melalui observasi, bakat dan minat memerlukan cara pemahaman yang berbeda. Bakat siswa tampak dari kemampuannya, prestasinya, bahkan tes intelegensinya. Sedangkan minat siswa tampak pada hobinya, kegiatan ekstrakurikuler yang diikutinya, kegiatan yang disukainya, maupun tes minat yang diambilnya. Semakin baik siswa mengenal dirinya sendiri, semakin mudah bagi Guru untuk membantu mengarahkannya dalam memahami pelajaran. Di sisi lain, semakin baik pemahaman Guru tentang karakteristik siswa, semakin baik manajemen kelas. Jadi, pemahaman karakter siswa membawa dampak positif bagi diri siswa sendiri maupun Guru.


Kegiatan pembelajaran dalam pendidikan di Indonesia bersifat klasikal yang melibatkan siswa dan guru. Pembelajaran yang bersifat klasikal tentu membutuhkan proses persiapan dan perencanaan pada desain pembelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Hal tersebut karena terdapat keberagaman karakteristik, antar siswa yang satu dengan yang lain memiliki karakteristik yang berbeda. Para pendidik dalam hal ini guru perlu memperhatikan karakteristik siswa sebagai peserta didiknya. Penguasaan guru terhadap karakteristik siswa dapat membantu dalam membuat perencanaan pembelajaran, diantaranya dalam menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan. Seorang guru harus cerdas dalam pemilihan metode pembelajaran, agar dalam keberagaman karakteristik, siswa mampu mencapai kompetensi yang diharapkan. Oleh karena itu pengenalan terhadap karakteristik siswa harus dilakukan. Upaya guru dalam mengenal sekaligus menguasai karakteristik siswa membutuhkan dukungan dari banyak pihak, diantaranya pengelola sekolah, orang tua, dan siswa itu sendiri. Pihak pengelola sekolah dapat membantu dengan pengadaan kegiatan yang dapat mengidentifikasi karakteristik siswa. Kegiatan tersebut misalnya, tes intelegensi, tes minat bakat, dan bimbingan konseling. Selain pihak pengelola sekolah, diharapkan orang tua juga dapat memberikan masukan dan saran kepada guru menyangkut informasi tentang karakteristik anaknya. Guru juga dapat melakukan pendekatan secara personal untuk lebih mengenal karaktersitik siswanya. Seorang guru yang telah mengetahui karakteristik masing-masing siswanya akan lebih mudah dalam merencanakan pembelajaran. Penggunaan metode pembelajaran yang tepat dapat membantu kefektifan proses belajar. Selain itu juga dapat membantu siswa dalam memahami konsep-konsep materi dan berinteraksi secara aktif terhadap lingkungannya. Dengan demikian tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan dapat tercapai.

Laporan bacaan ke 8 setelah UTS

 Nama : Hendri 

Nim : 11901018

1.Struktur laporan bacaan

     Struktur laporan bacaan ini adalah (1) pendahuluan, (2) laporan bagian buku, (3) komentar dan (4) penutup. Satu persatu akan dibahas dibawah ini.

A.PENDAHULUAN

Judul :Membaca Cepat dan Efektif

Penulis :Drs.Nurhadi

Penerbit :Sinar Baru Algensindo, 2010

Kota Terbit :Bandung, cetakan kelima, September 2010

Ukuran Buku :21cm

Tebal Buku :ix + 189 halaman

Garis besar buku Drs.Nurhadi yang berjudul Membaca Cepat dan Efetif terdiri atas 6 bab,yakni:

1.Bab 1 membahas materi tentang Mengapa Perlu Membaca Cepat dan Efektif,Masalah Umum Yang di Hadapi Pembaca,Beberapa Pandangan Yang Salah Terhadap Pembaca,Mungkinkah Kecepatan Membaca Itu Ditingkatkan.

1.1 Mengapa Perlu Membaca Cepat dan Efektif ?

A.Mengenali Hakikat Proses Membaca

            Mengapa kita dituntut untuk menjadi pembaca yang cepat dan efektif ? pertama yang perlu diingat iyalah bahwa membaca itu adalah sebuah komfleks dan rumit.Kompleks artinya dalam proses membaca terlibat berbagai faktor internal dan eksternal pembaca.Faktor internal dapat berupa intelegensi ( IQ ), minat, sikap, bakat, motifasi, tujuan membaca dan sebagainya.Sedangkan faktor eksternal bisa dalam bentuk sarana membaca,teks bacaan (sederhana,sulit,berat,mudah ),faktor lingkungan,atau faktor latar belakang sosial ekonom,kebiasaan,dan tradisi membaca.

            Kita semua sepakat bahwa membaca pada hakikatnya adalah proses berpikir.Ingat apa kata seorang ahli pembaca yang bernama Edward L.Thorndike,Reading as thinking dan Reading as Reasoning.Artinya,bahwa proses membaca itu sebenarnya tak ubahnya dengan proses ketika seorang sedang berpikir atau bernalar.

B.Tuntutan Realitas Sehari-hari

            Berapa juta eksemplar surat kabar terbit berhari-hari ini diseluruh dunia ? dalam berbagai jenis seperti majalah,maupun buku pelajaran dan sebagainya.Jelas semuanya tidak mungkin kita baca akan tetapi pada jenis-jenis tertentu yang sesuai dengan kepentingan kehidupan kita yang perlu dibaca.Karena betapa peran membaca sedimikian besar merasuk kesegala segi kehidupan moderen dewasa ini meskipun muncul media-media yang lain seperti tv, radio, peran membaca tidak bisa digantikan dengan sepenuhnya.


1.2 Masalah Umum Yang Dihadapi Pembaca

1) Rendahnya tingkat kecepatan membaca

2) Minimnya pemahaman yang diperoleh

3) Kurangnya minat baca

4) Minimnya pengetahuan membaca cepat dan efektif

5) Adanya gangguan-gangguan fisik yang secara tidak sadar menghambat kecepatan membaca.


1.3 Beberapa Pandangan Yang Salah Terhadap Pembaca

1) Pandangan yang menganggap bahwa membaca merupakan kegitan reseptif.

2) Membaca sebagai proses mengingat

3) Kurangnya perhatian terhadap membaca lanjut

4) Membaca bila hanya perlu saja.


1.4 Mungkinkah Kecepatan Membaca Itu Ditingkatkan ?

            Beberapa kelemahan dan hambatan membaca telah dijelaskan diatas,sebagai masalah umum sifatnya dialami setiap orang.Alternatif pemecahan untuk ini iyalah usaha meningkatkan dan mengembangkan kecepatan membacanya.Langkah praktis nya adalah belajar teori membaca cepat dan mengembangkannya sendiri.



2.Bab 11 Meningkatkan Kecepatan dan Keefektifan Membaca

            Dibab ini kita akan membahas materi tentang kecepatan membaca dapat ditingkatkan,hakikat membaca cepat dan keefektifan membaca,Mengukur kecepatan membaca,kemampuan membaca yang dikembangkan dalam membaca cepat,pembaca yang efektif dan tidak efektif.


2.1 Kecepatan Membaca Dapat Ditingkatkan

            Ada kecendrungan anggapan bahwa seorang pembaca lambat itu berhubungan dengan kecerdasannya,tidak selalu demikian,seorang pembaca yang lambat barangkali hanya tidak tahu bagaimana cara membaca cepat,sehingga apa yang dilakukannya tidak efisien.Secara teoritis kecepatan membaca itu dapat ditingkatkan menjadi dua sampai tiga kali lipat dari kecepatan semula.Bukti yang pernah adalah apa yang dilakukan Jhon A.Broyson dari Universitas Florida,dia melatih tiga orang untuk ditingkatkan kecepatan membacanya.


2.2 Hakikat Membaca Cepat dan Keefektifan Membaca

            Membaca cepat artinya membaca yang mengutamakan kecepatan dengan tidak mengabaikan pemahamannya.Biasanya kecepatan itu dikaitkan dengan tujuan membaca,keperluan,dan bahan bacaan.Artinya seorang pembaca cepat yang baik,tidak menerapkan kecepatan membacanya secara konstan diberbagai cuaca dan keadaan membaca.Penerapan kemampuan membaca cepat itu disesuaikan dengan tujuan membacanya,aspek bacaan yang digali (keperluan) dan berat ringannya bahan bacaan.

            Efektif artinya peningkatan kecepatan membaca itu harus diikuti pula oleh peningkatan pemahaman terhadap bacaan.Pembacaan yang efektif dan kritis tahu tentang apa yang perlu digalinya dari bahan bacaan secara cepat,mengabaikan unsur-unsur yang kurang penting serta membuang hal-hal yang tak diperlukan.Pada beberapa kasus terbukti bahwa peningkatan kecepatan membaca akan diikuti oleh persentase pemahaman terhadap bacaan.

            Seorang pembaca efektif melihat setiap baris bacaan hanya pada satuan-satuan pikiran yang ada.biasanya berupa frase-frase,klausa-klausa,atau kata-kata kunci.Jadi bagian bacaan yang dilihat semakin sedikit.Akibatnya,perpindahan gerak mata semakin cepat dan pada akhirnya kecepatan membaca dapat ditingkatkan.Ia tidak memahami kata demi kata sesuai dengan makna aslinya (dalam kamus), tetapi melihat makna kata sesuai dengan konteks kalimatnya.Dengan demikian, pemahaman juga dapat ditingkatkan.


2.3 Mengukur Kecepatan Membaca

            Kecepatan membaca biasanya diukur dengan berapa banyak kata yang terbaca setiap menitnya, dengan pemahaman rata-rata 50%, atau dengan kata lain berkisar antara 40-60%.Pada taraf pemahaman sekian,kecepatan membaca yang anda ukur dianggap memadai.Misalnya,ada sebuah teks bacaan dari 1000 kata.Bila teks ini selesai and abaca dalam 1 menit maka kecepatan membaca anda adalah 1000 kata permenit.Bila teks itu anda selesaikan dalam 2 menit,maka kecepatan membaca anda 500 kata permenit.Demikian pula bila terselesaikan dalam 3 menit maka kecepatan itu menjadi 333 kata permenit.Dan seterusnya.Mungkin dalam 2 menit 10 detik,bergantung pada kemampuan masing-masing.

            Cara yang agak rumit tetapi akurat dalam mengukur kecepatan membaca sbb:

1) Tandailah dimana anda mulai membaca.

2) Bacalah teks tersebut dengan kecepatan anda yang menurut anda memadai.

3) Tandailah akhir anda membaca ( kalimat akhir,bila bacaan itu pendek ).Usahakan mencari bacaan yang berisi sekitar 1000-1500 kata saja.

4) Catat waktu anda mulai membaca( jam….,menit…,detik…, )

5) Catat waktu berakhirnya membaca( jam….,menit…,detik…,)

6) Hitunglah berapa waktu yang anda perlukan ( dalam detik )

7) Hitunglah jumlah kata dalam teks yang dibaca ( ingat,tanda-tanda baca itu dihitung ).

8) Kalikan jumlah kata dengan bilangan 60 ( 1 menit=60 detik ).

9) Bagi hasil perkalian tersebut dengan jumlah waktu yang anda perlukan untuk membaca tadi,maka hasilnya adalah ”jumlah kata permenit”


2.4 Kemampuan Membaca Yang Dikembangkan Dalam Membaca cepat

1) Meningkatnya kemampuan membaca sampai dua, tiga kali lipat ( dapat mendemonstrasikan membaca cepat sebagai sarana meningkatkan kecepatan membaca);

2) Meningkatan pemahaman terhadap bacaan;

3) Meluasnya jangkauan gerak mata sebagai sarana meningkatan kecepatan membaca;

4) Berkurangnya kesalahan-kesalahan dalam gerak mata yang menghambat kecepatan membaca;

5) Menghilangkan kebiasaan-kebiasaan jelek yang menghambat kecepatan membaca.

                                                               

2.5 Pembaca Yang Efektif Dan Yang Tidak Efektif

1.Anda dikatakan sebagai pembaca yang kurang efektif bila:

· Membaca dengan kecepatan rendah,umum nya antara 100-200 kata permenit atau kurang.

· Membaca dengan kecepatan konstan untuk berbagai cuaca dan kondisi pembaca.

· Gerak mata diarahkan atau dipusatkan pada kata demi kata dan memahami secara terputus.Banyak terjadi pengulangan gerak mata.

· Menggerakkan bola mata 8-12 kali atau lebih pada setiap baris bacaan.

2.Anda dikatakan sebagai pembaca yang efektif bila:

· Membaca dengan kecepatan tinggi biasanya berkisar antara 325-450 kata permenit atau lebih.

· Konsentrasi terhadap bahan bacaan sempurna.

· Waktu membaca,secara fisik diam.

· Membaca dengan sikap aktif,kritis,kreatif.

· Menggerakkan bola mata 3-4 kali pada setiap baris bacaan.


3.Bab 111 Metode Mengembangkan Kecepatan Membaca

            Dibab ini kita akan membahas materi tentang Beberapa Metode yang Pernah Dikembangkan,Mengembangkan Kecepatan Membaca Melalui Metode Gerak Mata,Macam-macam Gerak Mata Pada Membaca Cepat,Tipe-tipe Pembaca yang Tidak Efisien.


3.1 Beberapa Metode Yang Pernah Dikembangkan.

1.Metode Kosakata

Metode kosakata adalah metode mengembangkan kecepatan membaca melalui pengambangan kosakata.Artinya,metode ini mengarahkan perhatian pada aspek perbendaharaan kata seorang pembaca.Bagaimana caranya ? kosakata seorang itu terbatas jumlahnya,dan akan selalu berkembang terus sesuai dengan kemampuannya menambah kosakata itu setiap hari.Latihan meningkatkan dan menambah kosakata baru dengan cepat dan dalam jumlah yang banyak inilah prinsip metode kosakata diatas.

Dasar pikiran metode ini sudah jelas,yaitu semakin besar dan semakin banyak perbendaharaan kata seorang,semakin tinggi kecepatan membacanya.Inilah prinsipnya.Akan tetapi,tampaknya metode ini tak banyak dipakai orang sebab nyatanya perbendaharaan kata yang besar tidak menjamin kecepatan membaca seseorang.

2.Metode Motivasi ( Minat )

Mengapa di sebut metode motivasi atau minat? Aneh nampaknya.akan tetapi begitulah metoe ini di sebut orang.cara krjanya ialah memotivasi para pemula(pembaca yang mengalami hambatan dalam membacanya) dengan berbagai macam rangsangan bacaan yang menarik sehingga tumbuh minat membacanya.Dari sini kemudian diharapkan muncul kebiasaan membaca yang tinggi,yang pada akhirnya meningkat pula kecepatan dan pemahamannya terhadap bacaan.

3. Metode bantuan alat

Metode ketiga yang pernah dikembangkan untuk meningkatkan kecepatan dan kecermatan membaca anak didik adalah melatih kecepatan membaca itu dengan bantuan alat.ketika seorang membaca(melihat garis-garis bacaan),gerak matanya di percepat dengan bantuan alat yang berupa ujung pensil,ujung jari,atau alat petunjuk khusus dari kayu.Gera mata dibantu oleh gerak ujung alat yang di gunakan.pertama dengan kecepatan rendah,kemudian di percepat, dipercepat,dan terus dipercepat.jadi,kecepatan mata mengikuti kecepatan gerak alat.Menggunakan metode ini memperoleh hasil cuup memuaskan.


4.Metode Gerak Mata

Metode gerak mata adalah metode yang paling banyak dipakai dan di kembangkan orang saat ini,baik untuk pengajaran membaca permulaan,maupun bagi siapa saja yang ingin meningkatkan kecepatan membacanya.Bagaimana metode ini di terapkan?jawabnya mudah,yaitu mengembangkan kecepatan membaca dengan meningkatkan kecepatan gerak mata.Kok,bisa?ya,karena kecepatan membaca itu sendiri berarti kecepatan gerak mata dalam menelusuri unit-unit bahasa dalam bacaan.




Laporan bacaan ke 7 setelah UTS

 Nama HENDRI

Nim 11901018

Judul Jurnal : Manajemen Sekolah Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Pada SD

Beberapa pandangan mengartikan pendidikan sebagai sebuah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan manusia yang bertaqwa dan beriman, berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan juga keterampilan. Dengan adanya pendidikan, manusia akan memiliki kesempatan untuk mengekspresikan dirinya secara utuh. tertuan didalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, lahir sebuah tujuan pendidikan nasional yaitu, "Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu,cakap kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab."


Rohiat (2010:14) mengatakan, "Manajemen merupakan alat untuk mengelola sumber daya yang dimiliki secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan harus benar benar dipahami oleh kepala sekolah." Rekam jejak manager dalam menerapkan manajemen disekolah sangat tergantung pada kompetensi (skil) kepala sekolah. Manajemen pendidikan ialah proses manajemen dalam ruang lingkup tugas pendidikan dengan memanfaatkan segala sumber daya yang ada secara efisien agar dapat mencapai tujuan secara efektif. Manajemen sekolah dapat diartikan optimalisasi sumber daya atau pengelolaan dan pengendalian. Optimalisasi sumber daya berkenaan dengan pemberdayaan sekolah merupakan sebuah alternatif yang paling tepat untuk melahirkan sekolah yang mandiri dan memiliki keunggulan yang tinggi.


 


A. Konsep Manajemen Sekolah


Jika diartikan secara luas manajemen adalah sebuah pelaksanaan, perencanaan, perancangan dan pengawasan sumber daya untuk mencapai sebuah tujuan secara efektif dan juga efisien. Sedangkan arti secara sempit adalah manajemen sekolah/madrasah yang meliputi:


Perencanaan program sekolah/madrasah, pelaksanaan program sekolah/ madrasah, kepemimpinan kepala sekolah/madrasah, pengawas/evaluasi dan sistem informasi sekolah/madrasah. adapun potensi yang harus di kembangkan oleh sekolah sebagai lembaga formal yakni, aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotorik.


Manajemen sekolah ialah proses mengola sekolah menggunakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sekolah supaya dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. manajemen pembelajaran menjadi salah satu prioritas oleh kepala sekolah.


B. Fungsi Manajemen Sekolah


Ada empat fungsi manajemen yang dikenal masyarakat secara umum, yaitu perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pengarahan (directing), dan fungi pengendalian (controling). terdapat pula fungsi pembentukan staf (staffing) dalam fungsi organizing. Ada keterlibatan fungsi-fungsi pokok dalam proses manajemen yang ditampilan oleh seorang pemimpin. Menurut Maisah dan Yamin (2009:2), yaitu "Perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), Kepemimpinan (leading) dan Pengawasan (controlling).”


C. Garapan Manajemen Sekolah


Jika dilihat dari penataan sumber daya manusia, kurikulum, fasilitas, sumber belajar dan dana, serta upaya untuk mencapai tujuan lembaga sekolah tersebut secara dinamis, manajemen pendidikan merupakan bagian dari proses manajemen sekolah. Manajemen pendidikan ialah suatu sistem pengolaan dan penataan sumber daya pendidikan, contohnya tenaga kependidikan, pendidik, peserta didik, masyarakat, kurikkulum, keuangan, sarana dan prasarana pendidikan, tata laksana dan lingkungan pendidikan.


Soepardi menyatakan bahwa, "Garapan manajemen pendidikan meliputi bidang; organisasi kurikulum, perlengkapan pendidikan, media pendidikan, personil pendidikan, hubungan kemanusiaan dan dana finansial atau keuangan."


D. Peranan Kepala Sekolah Dalam Manajemen 


Jabatan kepala sekolah ialah jabatan karir yang diperolah dari lamanya ia menjabat sebagai guru. Menjadi kepala sekolah haruslah memenuhi kriteria-kriteria yang disyaratkan. Dijelaskan oleh Wahjosumidjo (2011:83) bahwa, "Secara sederhana kepala sekolah dapat didefinisikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas tambahan untuk memimpin suatu lembaga atau sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran."


Kepala sekolah dapat sikatakan berhasil apabila ia mampu memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta dapat melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seseorang yang diberi tanggungjawab untuk memimpin sekolah. Sesuai dengan ciri-ciri sekolah yakni sebagai organisasi yang bersifat kompleks dan unik, peran dari kepala sekolah haruslah dilihat dari berbagai sudut pandang. secara umum kepala sekolah bertanggungjawab dibidang pengembangan kurikulum, pengajaran, administrasi kesiswaan dan personalia staf, hubungan masyarakat, administrasi school plant, dan perlengkapan serta organisasi sekolah.


Kepala sekolah harus mampu menciptakan hubungan yang terbaik dengan para guru, staff dan siswa, karena esensi dari kepemimpinan ialah kepengikutan. Dilihat dari otoritas dan status formal seorang pemimpin, peranan pemimpin dibagi menjadi tiga macam. Dalam pelaksanaan fungsinya, kinerja seorang kepala sekolah sering dirumuskan sebagai EMASLIM (Educator, Manager, Administrator, Supervisor, Leader, Innovator, dan Motivator)


E. Mutu Pendidikan


Mutu sangat berkaitan dengan baik buruknya suatu benda, kadar atau derajat. Untuk mencapai mutu pendidikan yang terbaik perlu perencanaan yang matang. Perencanaan yang matang ialah salah satu bagian dalam upaya meningkatkan mutu yang maksimal.


Depdiknas (Mulyasa, 2013:157), "Mutu didefinisikan sebagai suatu karakteristik atau gambaran yang menyeluruh dari barang atau jasa yang menunjukkan kemampuannya dalam membuaskan kebutuhan yang diharapkan atau tersirat. Jika melihat mutu dari konteks pendidikan, mutu mencakup proses, input dan output pendidikan.


Input pendidikan merupakan sesuatu yang wajib tersedia karena input dibutuhkan untuk berlangsungnya suatu proses. Adapun input sumber daya meliputi kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa (SDM), dan sumber daya lainnya yakni peralatan, perlengkapan, dana, bahan dan lain sebagainya.


Proses pendidikan ialah terjadinya perubahan sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Input ialah sesuatu yang berpengaruh terhadap berlangsungnya proses, sedangkan sebuah hasil dari proses disebut output. Hasil dari kinerja sekolah bisa disebut sebagai output pendidikan. kemudian kinerja sekolah ialah feedback atau prestasi yang dihasilkan dari proses sekolah. Dimana kinerja dapat diukur dari efektivitasnya, produktivitasnya,efisiensinya, inovasinya, kualitas kerjanya dan tentu moral kerjanya. Proses pendidikan bermutu akan tercipta apabila seluruh komponen pendidikan terlibat dalam proses pendidikan itu sendiri.


Priansa dan Karwati, (2013:15) menyebutkan bahwa, "Mutu dalam pandangan pendidikan ialah mutu dalam konsep relatif, terutama berkaitan dengan kepuasaan pelanggan. pelanggan pendidikan dibagi menjadi dua, yaitu pelanggan internal dan pelanggan eksternal."


Pendidikan yang bermutu tercipta apabila pelanggan internal yang imaksud berkembang, baik secara fisik maupun psikis. Siapa saja pelanggan internal? Pelanggan internal meliputu kepala sekolah, guru dan karyawan sekolah. Sedangkan pelanggan eksternal, meliputi peserta didik (eksternal primer), orang tua, pemimpin pemerintah dan perusahaan (eksternal skunder), dan pasar kerja dan masyarakat luas (eksternal tesier).


Peran kepala sekolah dalam kaitan manajemen sekolah adalah mengadakan bukubuku bersama dengan pedoman guru; guru memahami dan menjabarkan tujuan pendidikan yang meliputi tujuan umum,instruksional, kurikuler, dan tujuan khusus; guru menyusun program kurikuler dan kegiatan tambahan lainnya, termasuk berbagai program tahunan; guru mengembangkan alat dan media pembelajaran, menyusun jadwal dan pembagian tugas, mengembangkan sistem evaluasi belajar, melakukan pengawasan terhadap kegiatan proses belajar mengajar, menyusun norma kenaikan kelas, serta mengembangkan perpustakaan sebagai ilmu dan tempat belajar.


Masyarakat dapat berperan serta dalam semua aspek manajemen sekolah mulai dari perencanaan program, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program termasuk keuangan. Sekolah tanpa dukungan masyarakat pasti tidak akan berjalan dengan sempurna. Masyarakat merupakan pilar penting bagi tumbuhnya sebuah sekolah berkualitas.


Dalam perencanaan dan pelaksanaan program sekolah akan ditemui berbagai faktor penghambat. Hambatan dalam perencanaan program sekolah, antara lain kurangnya partisipasi masyarakat dan kesulitan ekonominya sehingga dukungan mereka terhadap manajemen sekolah ikut rendah. Upaya yang dapat dilakukan kepala sekolah yaitu mengajak orang tua murid dan masyarakat untuk memberikan dukungan non dana kepada sekolah, walaupun mereka tidak mampu berkontribusi dalam menyumbang dana pendidikan. Dukungan non dana tersebut, seperti gotong royong sekolah, dan kegiatan lainnya dalam bentuk menyumbangkan tenaga dari masyarakat.

Laporan bacaan ke 6 setelah UTS

 Nama Hendri

Nim 11901018

Identitas Jurnal 


Judul: Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Lanjutan Menengah Atas Dan Pengaruhnya Terhadap Pembangunan Karakter


Penulis: Darmiah


Penerbit: UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh




Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam(PAI) yang ada di sekolah mempunyai sebuah tujuan yaitu agar para siswa mampu mengamalkan ajaran agama yang dianut nya. Keberhasilan dalam pembelajaran pendidikan agama islam tergantung dalam pembelajaran nya. Apabila sasarannya sesuai dengan perintah Al-Qur'an dan sunnah Rasul maka siswa memiliki intelektual yang luas dan juga kesadaran spritual nya meningkat.


Dalam pengembangan karakter siswa ada beberapa tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi akhir. Dalam hal ini lembaga pendidikan merupakan lembaga yang utama untuk memanfaatkan secara optimal dan semaksimal mungkin terhadap lingkungan belajar yang ada, tujuan nya untuk mengupayakan, memperbaiki, membina dan menyempurnakan proses pembentukan karakter.


Strategi merupakan sebuah haluan besar yang harus dicapai sasaran nya seperti yang sudah ditentukan. Maka dari itu, strategi dalam proses pembelajaran harus tepat dan sesuai dengan yang diharapkan.


Jika dikaitkan dengan pendidikan dalam garis besar terdapat 3 strategi, yaitu :


1.Jika dilihat dari segi proses pembelajaran yang di didik secara umum ada tiga strategi dalam pembelajaran yaitu:


a.Pendekatan individualistik


b.Pendekatan sosial/kelompok


c.Pendekatan campuran


2.Pendekatan Umum Pembelajaran Pendidikan Islam, ada beberapa cara yaitu:


a.Pendekatan rasional


b.Pendekatan emosional


c.Pendekatan fungsional


d.Pendekatan pengalaman


e.Pendekatan keterampilan proses


f.Pendekatan pembiasaan


g.Pendekatan keimanan dan klarifikasi nilai


3.Pendekatan khusus pembelajaran PAI, secara khusus ada 5 pendekatan, yaitu:


a.Pendidikan dengan keteladanan


b.Pendidikan dengan adat kebiasaan


c.Pendidikan dengan nasehat


d.Pendidikan dengan memberikan perhatian


e.Pendidikan dengan memberikan hukuman


4.Strategi pembelajaran kasus


5.Strategi pembelajaran targhib-tarhib


Jadi, pendidikan agama Islam adalah pendidikan yang dipastikan dapat membangun akhlak atau karakter sebuah bangsa atau masyarakat. Namun, tergantung kepada strategi pembelajaran yang digunakan. Penggunaan strategi yang tidak tepat dipastikan tidak akan dapat mencapai hasil yang telah ditetapkan. Para guru PAI juga perlu bertindak tegas dengan hukuman fisik yang dapat memberikan efek jera kepada siswa yang tidak patuh kepada ketentuan yang telah ditetapkan dengan memperhatikan nilai hak asasi manusia (HAM)

Laporan bacaan 5 setelah UTS

 Nama HENDRI

Nim 11901018

Identitas Buku


Judul : Management Sekolah Berbasis ICT

Penulis : Nurdyansyah, M.Pd. & Andiek Widodo, M.M.

Penerbit : Nizamia Learning Center

Cetakan : Kedua, Juni 2017

Tebal : vi + 155 hlm.; 14 cm x 21 cm


PENDAHULUAN

Buku yang dilaporkan adalah buku yang berjudul Management Sekolah Berbasis ICT yang ditulis oleh Nurdyansyah, M.Pd. & Andiek Widodo, M.M. Diterbitkan oleh Nizamia Learning Center, cetakan kedua pada bulan Juni tahun 2017, dan memiliki tebal 155 halaman.

Buku ini menekankan pada konsep manajemen berbasis Sekolah, Fungsi manajemen, system pengelolaan sekolah bermutu dan model pembelejaran berbasis ICT. 

Buku ini terdiri dari lima bab dengan penekanan yang berbeda-beda setiap babnya. Setiap bab juga telah disusun secara sistematis sesuai urutan materi dan tahapan pemahaman tentang manajemen sekolah berbasis ICT. 

Melalui buku ini diharapkan dapat memberikan modal pengetahuan bagi para pengamat pendidikan serta para pimpinan satuan pendidikan. Selain itu, juga diperuntukkan bagi para mahasiswa untuk mengembangkan buku ini dan menjadi rujukan referensi.


LAPORAN BAGIAN BUKU

Penulisan buku Manajemen Sekolah Berbasis ICT ini diharapkan bisa menjadi bahan bacaan dan referensi agi para pemerhati pendidikan khususnya bagi civitas akademika di Sekolah atau madrasah.


BAB I : MANAGEMENT SEKOLAH

Pada BAB ini, penulis menyajikan tentang Konsep Manajemen Berbasis Sekolah, Prinsip Manajemen Sekolah, Ruang Kajian Manajemen Sekolah, serta Fungsi-Fungsi Menajemen.


Penulis menuliskan pada bagian ini bahwa Manajemen Sekolah bermutu merupakan salah satu model pengelolaan yang memberikan otonomi kepada madrasah atau Kepala sekolah untuk pengambilan Pengambilan Kebijakan partisipatif secara langsung sesuai dengan standar pelayanan mutu yang ditetapkan oleh pemerintah pusat, Provinsi, Kabupaten dan Kota.


BAB II : MENGELOLA SEKOLAH BERMUTU

Pada BAB ini penulis menyajikan tentang Proses Penerapan Manajemen Sekolah, Sistem Tata Kelola Sekolah, serta Landasan Sekolah Bermutu. 


Pada bagian ini, penulis memberikan penjelasan bahwa Penerapan Manajemen Sekolah dalam pelaksanaannya harus melibatkan seluruh pengelola pendidikan di sekolah yaitu kepala sekolah, Pendidik, komite sekolah, tokoh masyarakat setempat dan bahkan pakar pendidikan harus dilibatkan secara aktif dalam setiap tahapan kegiatan. Disinilah proses pembelajaran itu berlangsung dan semua pihak saling memberikan kekuatan untuk memberikan yang terbaik bagi kemajuan sekolah.


BAB III : ASPEK MANAJEMEN SEKOLAH

Pada BAB ini, penulis menyajikan tentang Aspek-Aspek Manajemen Sekolah, serta Paradigma Baru Pendidikan.


Pada bagian ini, penulis memberikan penjelasan bahwa Dalam pengelolaan suatu lembaga pendidikan, manajemen sekolah merupakan suatu proses kegiatan yang terdiri dari berbagai kegiatan manajerial dan operasional guna mendukung tercapainya terlaksananya pembelajaran dan tercapainya tujuan pendidikan dalam sebuah lembaga pendidikan secara efektif dan efisien. Pengelolaan disetiap aspek manajemen sekolah dengan efektif dan efisien merupakan hal yang mutlak supaya suatu lembaga pendidikan berkembang secara optimal dan dinamis.


BAB IV : MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS ICT

Pada BAB ini, penulis menyajikan bahan bacaan tentang Pengertian Pembelajaran Berbasis ICT, Prinsip-Prinsip Pembelajaran Berbasis ICT, Aplikasi Pembelajaran Berbasis ICT, serta Unsur Pengembangan pembelajaran.


Pada bagian ini, penulis memberikan penjelasan bahwa ICT (Information and Communication Technology) atau yang lebih dikenal dengan TIK (teknologi informasi dan komunikasi) adalah berbagai aspek yang melibatkan teknologi, rekayasa dan teknik pengolahan yang digunakan dalam pengendalian dan pemrosesan informasi serta penggunaannya, hubungan computer dengan manusia dan hal yang berkaitan dengan social, ekonomi dan kebudayaan [British Advisory Council for applied Research and Development: Report on Information Technology; H.M. Stationery Office. 1980].


BAB V : IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI MENAJEMEN SEKOLAH

Pada BAB ini, penulis menyajikan pembahasan mengenai Pengertian Sistem, Pengertian informasi, Konsep Sistem Informasi Manajemen dalam pendidikan.


Pada bagian ini, penulis memberikan penjelasan bahwa Berdasarkan pada elemen/komponennya sistem merupakan kumpulan dari elemen-elemen yang berinteraksi untuk mencapai tujuan teretentu (Jogiyanto, 2001). Jadi Sistem adalah sekumpulan elemen-elemen yang berinteraksi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Laporan bacaan 4 setelah UTS

Nama HENDRI

Nim 11901018


 Menurut Ki Hajar Dewantara, bahwa pendidikan merupakan sarana perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat. Pendidikan yang tidak disadari oleh kebudayaan akan menghasilkan generasi yang tercerabut dari kehidupan masyarakatnya. Dari yang saya baca dalam menbangun pendidikan di sekolah terdapat dua wacana yang cukup besar, yaitu:


• Wacana pertama adalah academic (wacana pengembangan prestasi akademik), sebagai wacana dominan yang lebih menekankan achievement discourses pada proses restrukturisasi deregulasi, desentralisasi, kurikulum, dan pelatihan).


• wacana yang kedua adalah wacana kultural yang lebih menekankan pada aspek rekonstruksi (terkait dengan redefinisi, rekulturasi, dan pergeseran mind-sets)” (Suyata, 2000).


 


Pernyataan dari dua wacana di atas bermakna bahwahak tersebut lebih menekankan perbaikan pendidikan hanya pada proses restrukturisasi, tidak lagi memadai, mengingat adanya keyakinan bahwa sistem sosial dan sistem budaya menjadi medan dan kunci keberhasilan pendidikan. 


Berkaitan dengan pendepat tersebut, yang lain ada mengemukakan bahwa adanya dua pendekatan perubahan pendidikan yang berada di sekolah, yakni:


1. Pendekatan struktural


Dimana pendekatan ini memusatkan perhatian lebih kepada pengubahan aspek-aspek struktural- birokratik, seperti job descriptions, dimana Job description atau uraian jabatan atau gambaran tugas adalah suatu pernyataan tertulis yang berisi tujuan dari dibentuknya suatu jabatan/tugas. Uraian ini berisi gambaran tentang apa yang harus dilakukan oleh pemegang jabatan, bagaimana suatu pekerjaan dilakukan, alasan-alasan mengapa pekerjaan tersebut dilakukan, hubungan antara suatu posisi tertentu dan posisi lainnya di luar lingkup pekerjaannya dan di luar organisasi (eksternal) untuk mencapai tujuan unit kerja dan perusahaan secara luas. Apabila job description telah tersusun dengan baik, maka job spesification atau spesifikasi jabatan akan mulai dikembangkan. Selanjutnya tatanan birokrasi, dimana Birokrasi merupakan struktur tatanan organisasi, bagan, pembagian kerja dan hierarki yang terdapat pada sebuah lembaga yang penting untuk menjalankan tugas-tugas agar lebih teratur, seperti contohnya pada pemerintahan, rumah sakit, sekolah, militer dll. dan selanjutnya pengaturan hubungan antar unit organisasi, gaya kepemimpinan , dimana Gaya kepemimpinan mengacu pada perilaku karakteristik pemimpin saat mengarahkan, memotivasi, membimbing, dan mengelola sekelompok orang. Pemimpin hebat bisa menginspirasi gerakan politik dan perubahan sosial. Mereka juga dapat memotivasi orang lain untuk tampil, berkreasi, dan berinovasi, dan aspek struktur sekolah lainnya.


 


2. Pendekatan budaya


Dimana pendekatan ini memusatkan perahtian lebih kepada budaya keunggulan atau yang hiasa disebut dengan ( culture of excellence), yang tentunya lebih menekankan pengubahan pada pikiran, pada kata-kata, pada sikap, pada perbuatan dan pada hati setiap warga sekolah. Dan disini pendekatan budaya untuk mengembangkan atau meningkatkan kinerja sekolah tentunya semua itu akan lebih efektif dibandingkan dengan pendekatan sebelumnya yakni pendekatan struktural.


 


Dari Kedua pendapat di atas, telah mengingatkan pada sejumlah konsep-konsep pokok dalam literatur berjudul “Culture Matters: How Values Shape Human Progress” (Harrison & Huntington, 2000) yang dimana dalam perkembangannya para ahli ilmu sosial mulai memberikan perhatian pada faktor kultural dalam menjelaskan berbagai realitas di masyarakat yang terkait dengan isu pembangunan, isu modernisasi,isu demokratisasi, dan isu lain-lain. Dan yang saya baca dapat saya simpulkan bahwa kemajuan ataupun ketertinggalan tidak lah di sebabkan oleh faktor dari luar masyarakat, tapi melainkan oleh karena faktor internal yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri. Dan Masyarakat sendirilah yang memilih untuk maju atau tertinggal. Oleh karena itu di dalam hal ini tentunya bukan hanya faktor dari luar yang mempengaruhi, tetapi faktor dari dalam itulah yang mempengaruhi mau seperti apa kita, mau maju atau tertinggal. Faktor internal tersebut tidak lain adalah budaya. Budaya inilah faktor utama nya dalam hal ini. Tidak ada definisi tunggal mengenai kebudayaan.


thick description) dalam menjelaskan jalan hidup masyarakat (the way of life of a society) yang meliputi:


1. Nilai, adalah alat yang menunjukkan alasan dasar bahwa "cara pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih disukai secara sosialdibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan akhir yang berlawanan Nilai memuat elemen pertimbangan yang membawa ide-ide seorang individu mengenai hal-hal yang benar, baik, atau diinginkan.


2. Praktik, merupakan suatu tindakan yang domain utamanya adalah sikap, namun sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (behavior). Suatu sikap dapat terwujud menjadi suatu tindakan nyata maka diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan terjadinya suatu tindakan tersebut. Faktor pendukung tersebut meliputi faktor fasilitas dan faktor dukungan.


3. Simbol, adalah lambang yang mengandung makna atau arti. Kata simbol dalam bahasa Inggris: symbol; Latin symbolium, berasal dari bahasa Yunani symbolon (symballo) yang berarti menarik kesimpulan, berarti atau memberi kesan.


4. Institusi, merupakan suatu organisasi yang ada dan pendiriannya atas dasar tujuan yang nantinya akan langsung berhubungan dengan masyarakat. Kebanyakan institusi yang berdisi dengan tujuan untuk memberikan pendidikan pada kalangan umum. Institusi merupakan segala daya tahap struktur yang mekanismenya berdasarkan tatanan sosial serta kerjasama dalam pembentukkan perilaku setiap individu yang terlibat dalam suatu institusi tertentu. Dalam pembentukan perilaku yang berperan aktif bukan hanya pihak institusi saja akan tetapi segala


5. Relasi sosial, merupakan hubungan timbal balik antar individu yang satu dengan individu yang lain dan saling mempengaruhi.15 Mei 2019


 


Dari yang saya baca Budaya sekolah merupakan himpunan norma- norma, nilai-nilai dan keyakinan, ritual dan upacara, simbol dan cerita yang membentuk persona sekolah. Disini tertulis harapan untuk membangun dari waktu ke waktu sebagai guru, administrator, orang tua, dan siswa bekerja sama, memecahkan masalah, menghadapi tantangan dan mengatasi kegagalan. Dan Setiap sekolah memiliki seperangkat harapan tentang apa yang dapat dibahas pada rapat staf, bagaimana teknik mengajar yang baik, dan pentingnya pengembangan staf. Budaya sekolah juga merupakan cara berpikir tentang sekolah dan berurusan dengan budaya dimana mereka bekerja. Dan Budaya sekolah juga merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa. Dan Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif, dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Dan dari yang saya baca bahwa Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan. Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah. Di sekolah, ada ritual yang kompleks dalam hubungan interpersonal, satu set kebiasaan, adat istiadat, dan sanksi irasional, kode moral yang berlaku di antara mereka. Orangtua, guru, kepala sekolah, dan siswa selalu merasakan sesuatu yang istimewa, namun seringkali tak terdefinisikan, tentang sekolah mereka, tentang sesuatu yang sangat kuat namun sulit untuk dijelaskan. Kenyataan ini, merupakan aspek sekolah yang sering diabaikan dan akibatnya seringkali tidak hadir dalam diskusi- diskusi tentang upaya perbaikan sekolah. Sekolah berperan dalam menyampaikan kebudayaan dari generasi ke generasi dan oleh karena itu harus selalu memperhatikan kondisi masyarakat dan kebudayaan umum. Namun demikian, di sekolah itu sendiri timbul pola kelakuan tertentu. Kebudayaan sekolah merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat luas, namun mempunyai ciri-ciri yang khas/unik sebagai suatu sub-kebudayaan/sub-culture (Nasution, 1999). Timbulnya sub-kebudayaan sekolah juga terjadi karena sebagian besar dari waktu siswa terpisah dari kehidupan orang dewasa. Dalam kondisi demikian, dapat berkembang pola perilaku yang khas bagi siswa yang tampak dari pakaian, bahasa, kebiasaan, kegiatan-kegiatan, serta upacara- upacara. Sebab lain timbulnya kebudayaan sekolah adalah tugas sekolah yang khas yakni mendidik anak melalui penyampaian sejumlah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), ketrampilan (psikomotorik) yang sesuai dengan kurikulum dengan metode dan teknik kontrol tertentu yang berlaku di sekolah itu. Sebagai sub-kultur, kultur sekolah hadir dalam berbagai variasi dalam praktiknya. menurut Harrison & Huntington (2000), terdapat dua kategori nilai, yaitu nilai intrinsik dan nilai instrumental. Nilai intrinsik merupakan nilai yang ditegakkan tanpa memperhatikan untung/rugi, misalnya: nilai patriotisme. Sedangkan nilai instrumental merupakan nilai yang didukung karena menguntungkan, misalnya produktivitas. Visi misi tujuan dan nilai-nilai dalam budaya merupakan unsur yang penting. Pentingnya tujuan bermakna norma-norma yang positif, dan nilai-nilai yang dipegang teguh untuk menambahkan semangat dan vitalitas untuk perbaikan sekolah. Guru dapat berhasil dalam memfokuskan budaya pada produktivitas, kinerja, dan upaya perbaikan. Budaya membantu para guru dalam mengatasi ketidakpastian pekerjaan mereka dengan memberikan fokus pada kolegialitas. Hal ini penting untuk memberikan motivasi sosial dalam suatu pekerjaan yang menuntut mereka siap mengajar tigapuluh anak di ruang kelas. Budaya mendorong, memberi sanksi, dan memberi penghargaan pada tugas profesional untuk meningkatkan ketrampilan mereka.


 


dalam praktiknya seringkali justru terlewatkan perbaikan sekolah antara lain:


1. Culture fosters school effectiveness and productivity (Budaya mendorong terwujudnya efektivitas dan produktivitas sekolah).


2. Culture improves collegial and collaborative activities that fosters better communication and problem solving practices (Budaya meningkatkan kegiatan kolegial dan kolaboratif yang mendorong perbaikan komunikasi dan praktik pemecahan masalah).


3. Culture fosters successful change and improvement efforts (Budaya mendorong upaya keberhasilan perubahan dan perbaikan).


4. Culture builds commitment and identification of staffs, students, and administrators (Budaya membangun komitmen dan identifikasi dari para staf, siswa dan tenaga administrasi).


5. Culture amplifies the energy, motivation, and vitality of a school staff, students, and community (Budaya menguatkan energi, motivasi, dan vitalitas dari staf sekolah, siswa, dan komunitas/masyarakat).


6. Culture increases the focus of daily behavior and attention on what is important and valued (Budaya meningkatkan fokus pada perilaku keseharian dan perhatian pada apa yang penting dan bernilai/berharga).


 


Yang saya baca dari jurnal ada beberapa kultur sekolah yang dapat dikembangkan antara lain yang kondusif bagi pengembangan:


1. Prestasi Akademik


2. Non-Akademik


3. Karakter


4. Kelestarian Lingkungan Hidup